Di sebuah kota pesisir yang hidup dari pelabuhan, pasar, dan kerja keras warganya, nama Zainal Arif dikenal bukan karena sorotan besar, melainkan karena kehadiran yang konsisten.
Ia tumbuh dan dibentuk oleh Dumai—oleh pagi yang dimulai di pasar, oleh percakapan sederhana di warung kopi, dan oleh kebiasaan saling menyapa tanpa sekat. Dari lingkungan itulah ia belajar satu hal penting: hidup bukan tentang tampil paling depan, tetapi tentang berjalan bersama.
Zainal Arif dikenal sebagai sosok yang tenang, terbuka, dan mudah didekati. Ia hadir di ruang-ruang sosial tanpa perlu banyak bicara, lebih memilih mendengar sebelum menyampaikan pendapat. Dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, ia tidak datang membawa jarak, melainkan membawa rasa kebersamaan.
Keaktifannya di dunia organisasi mencerminkan komitmen tersebut. Ia dipercaya memimpin Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Dumai periode 2025–2029, sebuah amanah yang menuntut kebijaksanaan, keterbukaan, dan kemampuan merawat harmoni di tengah keberagaman. Selain itu, ia juga mengemban peran sebagai Sekretaris Umum Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) – LKKMD Dumai, memastikan komunikasi, koordinasi, serta kerja sama antarwarga berjalan dengan baik dan harmonis. Sebelumnya, ia juga aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan, menguatkan peran generasi muda dalam kehidupan sosial kota.
Suara yang Datang dari Kehidupan Sehari-hari
“Saya ini orang biasa. Tinggal di Dumai, ketemu orang Dumai, hidup dari kebiasaan orang Dumai juga. Jadi saya paham, yang dibutuhkan masyarakat itu sebenarnya tidak macam-macam. Cuma ingin hidup tenang, anak-anak bisa sekolah, usaha jalan, dan tetangga saling sapa,” ujar Zainal Arif dengan nada polos.
“Kalau ada perbedaan, ya itu hal biasa. Namanya juga hidup ramai-ramai. Yang penting jangan langsung emosi, jangan cepat menilai. Duduk dulu, dengar dulu. Biasanya kalau sudah saling dengar, hati jadi lebih dingin.”
“Saya percaya, Dumai ini kuat bukan karena siapa yang paling hebat, tapi karena orang-orangnya mau saling jaga. Kita ini satu kota, satu rumah. Kalau rumah dijaga bersama, semua yang tinggal di dalamnya pasti merasa aman.”
Namun, bagi Zainal Arif, jabatan bukanlah tujuan—nilai adalah fondasi.
Ia meyakini bahwa kekuatan sebuah kota tidak hanya diukur dari bangunan dan angka, tetapi dari hubungan antarmanusia: dari rasa saling percaya, saling menghormati, dan saling menjaga.
Ia memandang Dumai bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah bersama. Kota yang membesarkan, mengajarkan, dan memberi ruang untuk tumbuh. Karena itu, kehadirannya di tengah masyarakat selalu sederhana: ikut merasakan, ikut mendengar, dan ikut menjaga.
Zainal Arif tidak membangun citra dengan janji besar.
Ia membangunnya lewat kehadiran yang nyata.
Karena pada akhirnya, yang paling diingat masyarakat bukan siapa yang paling lantang berbicara,
melainkan siapa yang tetap ada—
saat kota berjalan dalam sunyi maupun ramai.
ditulis oleh Iwang
majalahdumai.pro


0 Comments